Kakak kedua saya meninggal saat pulang kerja

Kejadian ini dimulai pada tanggal 19 Maret 2011 lalu.

19 Maret 2011 – Rencana untuk melamar Sindi Budiarti

Saat itu hari Sabtu, saya hendak pulang ke Bandung bersama kakak dan kedua orangtua. Saya di jemput oleh kakak saya yang ke-4, Fenti Amzah dibilangan Slipi, Jakarta. Di dalam mobil, saya bersama kedua orangtua dan teh (teh = panggilan kakak perempuan di suku Sunda) Fenti mulai menanyakan bagaimana rencana lamaran saya nanti. Saya hanya mengutarakan sederhana bahwa akan melamar Sindi pada 23 April 2011, satu bulan berikutnya dari hari itu.

Selanjutnya perbicaraan di mobil adalah mengenai kakak saya yang ke-2, Nurbit Amzah, bukan perbicaraan mengenai lamaran. Ibu saya dengan semangatnya berencana untuk membuatkan celana dan kemeja yang bagus untuk A’Nurbit (orang tua saya adalah penjahit) dan hendak membelikan beliau sepatu kerja, pokoknya akan memberikan pakaian terindah untuk A’ Nurbit (orang sunda memanggil kakak lelaki dengan sebutan ‘A’) di hari lamaran saya nanti.

nurbit_roni

A Nurbit (kiri) dan A Roni (kanan) waktu kecil

Ibu pun menceritakan bagaimana aktifnya A’ Nurbit bersama kakak saya yang paling besar, Roni Amzah waktu mereka masih kecil. Bahkan saking bandel nya mereka berdua pernah di ikat kakinya ke tiang secara bersamaan. Sepanjang perjalanan ke Bandung memang lebih banyak mengobrol tentang A’ Nurbit.

20 Maret 2011 – A Nurbit meninggal dunia karena kecelakaan motor

Perihal rencana lamaran tanggal 23 April belum diberitahukan kepada ke-3 kakak saya yang lain, yaitu Vera Amzah (ke-3), Nurbit Amzah (ke-2), dan Roni Amzah (kakak pertama). Memang belum ada niatan juga untuk mengabarkan berita tersebut buru-buru, saya pun belum sempat silaturahim ke A’Nurbit padahal sudah lama tak bertemu dan saat saya sedang di Bandung pun saya jarang menyempatkan untuk main ke rumahnya.

Kemudian pada hari Minggu jam 4.30 pagi saya dibangunkan dengan kabar yang sangat mengejutkan setelah Ibu saya menerima telepon dari istri A’ Nurbit, Teh Irma yang mengabari bahwa A’ Nurbit meninggal dunia karena kecelakaan motor sepulang kerja. Saya masih dalam kondisi setengah sadar menerima berita tersebut dan bertanya ke Bapak siapa yang meninggal ? Sambil menangis (pertama kali nya saya melihat Bapak saya menangis), beliau mengatakan dalam bahasa sunda yang artinya “nurbit meninggal, kecelakaan motor di daerah sudirman”

Innalillahi wa innailahirojiun..
Sangat pedih mendengarnya dan saya langsung menangis, apalagi kejadian (kecelakaan) ini sangat tiba-tiba semakin membuat hati saya pedih. Kedua orang tua saya langsung menghubungi A’Roni dan meminta beliau untuk ke R.S. Hasan Sadikin memastikan betul tidaknya ada jasad Alm. Nurbit disana. Saya sendiri diminta untuk di rumah terlebih dahulu dan mengabari saudara yang lain sementara orang tua pergi menyusul ke R.S Hasan Sadikin.

nurbit

almarhum beserta istri dan kedua anaknya

Pendarahan di kepala dan sekitar wajah

Almarhum mengalami kecelakaan motor di Sudirman, sekitaran Pusdai Bandung sekitar pukul 02.00 pagi. Beliau sedang masuk kerja shift malam. Bekerja mulai pukul 4 sore dan pulang jam sekitar pukul 01.00 dini hari. Tak ada yang tahu pasti apakah ini kecelakaan tunggal ataukah ada kejahatan (percobaan perampokan) karena ada yang mengatakan beliau dikejar beberapa motor dari belakang sehingga beliau ngebut dan menabrak trotoar. Namun ada juga yang mengatakan beliau kehilangan kendali motor pada saat belokan.

Yang pasti beliau terjatuh dari motor dan kepalanya membentur trotoar jalan, mengakibatkan pendarahan di kepalanya. Darah keluar dari mulut, hidung, dan telinga. Polisi mengatakan almarhum meninggal di tempat kejadian dan selama 1 jam lamanya tergeletak di jalan dengan darah yang terus keluar.

Bapak dan A’ Roni yang melihat jasad almarhum di rumah sakit tak henti-henti nya menangis dan mengusap wajah almarhum karena saat itupun darah tak berhenti keluar dari telinga dan hidung nya. Ibu saya tak berani untuk melihat. Bahkan saya yang hanya mendengar keadaan almarhum begitu parahnya, sudah sangat merasa pedih dan terus menangis, apalagi Bapak dan A Roni yang ada di Rumah Sakit.

Malam sebelum kejadian kecelakaan

Teh Irma, istri almarhum mengatakan bahwa sebelum akan pulang kantor, almarhum menelepon Teh Irma menawarkan ingin dibawakan makanan apa untuk dirumah nanti. Teh Irma tak merasakan firasat apapun dan seperti biasa menanti A’Nurbit pulang. Teh Irma mulai merasakan firasat gak enak karena telepon tak di angkat, sms nya tak dibalas, dan sudah sekitar 1 jam lebih Teh Irma menunggu A’Nurbit namun belum juga sampai dirumah. Hingga akhirnya Teh Irma kedatangan dua orang polisi ke rumahnya dan memberikan STNK A’Nurbit dan mengatakan bahwa A’Nurbit mengalami kecelakaan motor dan telah meninggal dunia.

Pakaian Terindah itu adalah kain kafan

Beliau wafat di usia 35 tahun, meninggalkan dua anak, resha bisma (10 tahun) dan muhammad rafli bisma (4tahun), istri dan kami saudara kandungnya. Almarhum dimakamkan di kampung halaman orangtua kami, yaitu di Panjalu, Ciamis. Kakak saya yang ke-3, Vera Amzah tak sempat melihat wajah terakhir dari almarhum karena beliau pergi dari Cilegon dan langsung ke tempat pemakaman.  Teh Vera hanya menyaksikan jasad almarhum pada saat dimasukkan ke liang kubur. Orangtua kami menguatkan diri dan tak pernah menyangka bahwa pakaian terindah yang ingin mereka berikan untuk almarhum untuk digunakan pada saat lamaran saya nanti ternyata sudah didahului oleh kain kafan.

Hikmah nya

nisan_nurbit

nisan almarhum Nurbit Amzah

Kini setelah 10 bulan kejadian itu berlalu, kami tak pernah lupa untuk mendoakan almarhum. Kakak pertama, A’Roni mengingatkan pada adik-adiknya untuk lebih berhati-hati jangan sampai membuat kesedihan yang lainnya. Tentu A’Roni sangat terpukul dengan kejadian tersebut dan kehilangan sosok adik yang sangat baik, ramah, murah senyum dan ikhlas. Bahkan sampai saat ini A’Roni setiap 2 minggu sekali selalu pergi ke makam almarhum untuk berkunjung dan memberikan doa meski harus menempuh 3 jam perjalanan menggunakan motor kesana.

Kami sekeluarga pun insyaallah mengikhlaskan almarhum karena kami sadar semua didunia ini hanya titipan Allah S.W.T.  Tak lupa nasihat A’Roni selalu saya pegang untuk lebih berhati-hati dalam berkendara dan jangan memaksakan berkendara jika memang kecapean atau mengantuk.

Benar seperti kata Albert Einstein : “Satu-satunya kepastian didunia ini adalah ketidakpastian“. Tidak pernah ada yang tahu pasti apa yang akan menimpa kita nanti. Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik saja, selanjutnya biar Allah yang menentukan.

Semoga almarhum diberikan cahaya dalam kuburnya, di angkat derajat-Nya, di jauhi dari siksa kubur, di temani kesendiriannya, dan diberikan ke-ikhlasan, amin..

maminxblog” berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

kecebong3warna

Share this post Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

Comments

  1. Kisah yang menyedihkan, semoga kita bisa mengambil hikmahnya..
    Saya turut mendoakan almarhum kakanda..

  2. Innalillah…
    Semoga kita bisa lebih berhati-hati saat berkendaraan…

  3. Kematian pasti datang…tinggal bagaimana kita menghadapinya

  4. Moga almarhum di ampuni segala dosanya diterima segala amal baiknya
    jadi makin harus hati2 di jalan

  5. kakak saya juga meninggal karena kecelakaan mas.. anaknya masih berusia 3 bulan waktu itu, dan mereka pun masih pengantin baru.. hmm, semoga anak dan istrinya almarhum a’ Nurbit selalu diberikan kekuatan dan kemudahan oleh Allah :)

    • wahh sedih pasti itu mbak, baru menikah pula ya. turut berduka cita mbak ya. doa yang sama untuk almarhum kakak mbak ya, amin..

  6. Turut berduka cita Mas Maminx…..
    Ternyata banyak sobat blogger yang kehilangan saudaranya ya, tahun lalu…. :(

  7. Loh tadi Mak Cebong 3 udah komen apa ga muncul yah komennya??

  8. Punten Aa Mak Cebong 3 baru datang. Tadi ojegnya mogok jadi we telat nyampenya

    Merinding gw bacanya Aa. Semoga Aa Nurbit diberi tempat terbaik oleh Allah SWT. Amien

    Ngomong2 Teh Vera di Cilegon?? Hehehe Mama ekye juga di Cilegon Aa, di PCI. Tapi kami kalo mudik ke Bandung (di Gatsu).

    Oya, makasih udah ngeramein acaranya Mak Cebong. Salam kenal untuk Teh Vera dan Teh Irma ya 😉

    • he jelek ojekna atuh :P. amin teh hatur nuhun piduana ya. ehhh teh Vera emang di PCI tuh teh tinggalna. wah jangan2 rumahnya satu area lagi tuh, atau tetanggaan, hehe. Klo mudik saya ke Cimahi teh, Cijerah sih tepatnya. :D. waalaikum salam disalamin teh.

  9. Innalillahi saya turut berduka atas meninggalnya kakak maminx semoga amal ibadahnya diterima Allah dan keluarga terus diberi ketabahan

  10. jadi sedih kang..
    mugia a nurbit ditampi amal ibadahna ku Allah sareng dihapunten sadaya kalepatanna aamiin..

  11. Amiin..ya Rabbal Alamiin.. Semoga doanya diijabah ya, Minx…

    kata-kata ini kan kucatat dalam hatiku: “Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik saja, selanjutnya biar Allah yang menentukan”.

    Terima kasih sudah berbagi dan berpartisipasi, sudah dicatat sebagai peserta..

  12. Minx..A Nurbit seumur ama Nchie..
    Hiks..sedih banget,berasa ke diri sendiri,harus lebih hati-hati dalam mengendarai motor..jadi hariwang..
    Tapi yakin,itu memang sudah kehendakNya..
    Dan cuma mo bilang turut berduka cita,
    Semoga A Nurbit di berikan tempat yang terindah di sisiNya
    Buat anak dan istrinya,saudaranya semoga di berikan kesabaran dan ketabahan..

    Ah..Maminx..ga berhenti air mata ini..hiks..

  13. Innalillahi wa innailihi rojiun….duh pasti istrinya shock sekali yach mendengar kabar itu…apalagi anak2nya msh kecil…tp itu semua sdh takdir dr yang maha kuasa….smoga istri dan anak2 A’a nurbit selalu dalam lindungan Allah SWT…dan tegar meneruskan perjuangan hidupnya….

    terimakasih maminx atas partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta

  14. Innalillahi…ikut membacakan Al Fatihah untuk A Nurbit

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *