Postingan ini murni dibuat atas dasar suka rela, saya tidak mendapatkan bayaran apapun atas postingan ini, tidak memuat unsur SARA, unsur KKN ataupun unsur iklan. Postingan ini dibuat sejujur-jujurnya atas dasar kesan yang saya alami dan saya anggap unik atau berbeda.
Mayoritas orang pasti sudah mengenal atau pernah mendengar kota Bandung, salah satu kota besar di Indonesia yang katanya surga makanan, surga fashion (secara factory outlet dimana mana), surga udara (itu dulu, sekarang kalau siang panas nya sama kayak di Jakarta), dan yang pasti surga mojang mojang priangan *hehe..*, meski sekarang ada julukan baru yaitu surga geng motor yang rawan melakukan kebrutalan di malam hari dan surga macet di siang hari terutama saat week end. Tapi dari surga itu semua yang paling sering dicari oleh para wisatawan luar kota biasanya adalah makanan dan pakaian. Saya fokuskan ke makanan.
Makanan enak dan murah meriah menjamur di Bandung, mulai dari daerah Dago yang selain menyajikan makanan enak, juga menyajikan pemandangan dan udara yang segar *mantep dah*. Juga Lembang, hidangan unik seperti sate kelinci ada banyak disana. Makanan khas sunda pun pastinya tersedia yang biasanya lebih istimewa karena disajikan dengan menu minuman khusus yaitu susu murni yang masih segar karena peternakan sapi tak jauh dari sana.
Ingin makanan minuman yang murah-murah aja tapi tempatnya elit terletak di tengah kota atau menu & lokasi bintang lima namun harga bintang satu ? ehmm yummi ada di tempat makan “Bancakan” tak jauh dari Gedung Sate yang setiap week end di dominasi oleh mobil ber-plat B. Kemudian tak kalah meriahnya makanan lezat dan murah bisa ditemui di pinggiran jalan di daerah Cisangkuy, dekat dengan SMUN 20 Bandung atau terletak di depan R.M.“Rumah Nenek”. Dan lain lain banyak banget.
Namun dari semua itu yang saya tahu, tidak ada yang unik seunik tempat makan “Warung Suluh”. Tempat makan yang terletak di Jl.DR.Cipto no 8 Bandung ini punya gaya, tema, tempat, cita rasa dan penyajian yang unik, berbeda dengan lainnya. Meluncur ke lokasi bersama Sindi kekasih hati (ehm
), saya menemukan tempat ini tanpa disengaja. Sebenarnya sering melewati lokasi tersebut tapi nggak nyadar ada rumah makan seunik itu karena lokasinya yang memang bukan di daerah keramaian dan pusat jajanan.
 Salah satu hiasan di Warung Suluh |
 Foto dari dalam - eh ada yg ikut kefoto |
 Hiasan dinding yang kuat akan etnik jawa |
 Hiasan yang ada di depan kasir |
Memasuki warung tersebut serasa masuk ke zona zaman baheula (dulu), mungkin 50an – 70an. Iringan lagu keroncong mendayu-dayu dan lagu The Beatles yang di aransemen menjadi sendu makin membuat penasaran ingin segera mencicipi masakan warung tersebut. Lantai yang terbuat dari kayu pun menjadikan suasana warung menjadi ramai oleh pijakan kaki dari para pengunjung. Dinding – dinding yang dihiasi dan bercorak etnik jawa makin menambah warung ini kuat akan tema etnik jawa, bahkan daftar menu nya pun sangat unik dan gaya.
Akhirnya datanglah saat yang ditunggu-tunggu, makan!!, hehe. Dengan menu hidangan gratis keripik singkong, saya memesan sate sapi, nasi, dan bajigur. Adapun ceu Sindi memesan ayam goreng nasi timbel dan teh manis. Rasanya ? hmm cuma satu kata, ENAK ! *mengingat saya hanya mengenal enak atau nggak enak, gak bisa menilai lebih jauh seperti Pak Bondan
*.

Sate sapi+nasi+acar+bajigur,,hmm yummii,,slurphh
Dari yang awalnya cuma iseng-iseng coba tempat baru, jadinya ketagihan karena selain harga yang terjangkau (malah terhitung murah dibandingkan makanan di mall-mall), makanan yang enak, suasana nya pun menjadikan warung ini makin nyaman untuk betah berlama-lama disana diiringi lagu keroncong, lawas, dan lagu aransemen lainnya yang merdu membuat hati dan pikiran tenang, perut kenyang, saya pun bisa tertawa riang, hehehe.
Ayoo, ketika rekan berlibur di kota Bandung kemudian ingin merasakan etnik Jawa dan merasakan suasana masa lampau atau hanya ingin sekedar ngobrol kumpul-kumpul dengan rekan-rekan,
nggak ada salahnya mencoba tempat makan unik ini,
nggak rugi
deh.